Persoalan Menumpuk di Tanjab Barat, Suara Himpunan Mahasiswa Islam Dinilai Kian Redup
KUALA TUNGKAL //Sergap24jam.com – Di tengah berbagai persoalan yang kian kompleks di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), sorotan publik justru mengarah pada meredupnya peran organisasi mahasiswa, khususnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang selama ini dikenal sebagai garda intelektual dan sosial.
Sejumlah kalangan menilai, keberadaan HMI di daerah tersebut semakin menjauh dari fungsi utamanya sebagai penyambung aspirasi masyarakat. Isu-isu krusial seperti ekonomi daerah, kerusakan infrastruktur, hingga kesejahteraan nelayan dan petani dinilai belum mendapat perhatian serius dari organisasi tersebut.
Padahal, secara historis, HMI memiliki rekam jejak panjang sebagai motor penggerak perubahan sosial dan politik di Indonesia. Di tingkat daerah, peran tersebut diharapkan mampu diterjemahkan dalam bentuk advokasi kebijakan, aksi sosial, maupun kontrol terhadap jalannya pemerintahan.
Seorang pemuda setempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai, HMI saat ini lebih banyak berkutat pada kegiatan internal dibandingkan turun langsung ke tengah masyarakat.
“Dulu HMI dikenal kritis dan dekat dengan rakyat. Sekarang, ketika masyarakat menghadapi berbagai kesulitan, suaranya hampir tidak terdengar,” ujarnya.
Minimnya pernyataan sikap dan aksi nyata dari HMI Tanjab Barat memunculkan tanda tanya besar terkait arah gerakan organisasi tersebut. Sebagian masyarakat bahkan mulai meragukan komitmen HMI sebagai agen perubahan dan kontrol sosial.
Fenomena ini turut memicu kekhawatiran akan melemahnya peran mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik di daerah. Padahal, di tengah tantangan pembangunan dan dinamika sosial yang terus berkembang, keberadaan mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual sangat dibutuhkan.
Meski demikian, harapan tetap disuarakan agar HMI Tanjab Barat dapat melakukan refleksi internal dan kembali pada khitah perjuangannya. Dengan sejarah dan kapasitas kader yang dimiliki, organisasi ini dinilai masih memiliki peluang besar untuk bangkit dan kembali menjadi representasi suara rakyat.
Jika tidak, HMI dikhawatirkan hanya akan menjadi simbol organisasi semata—aktif dalam ruang diskusi tertutup, namun absen di tengah realitas masyarakat yang membutuhkan keberpihakan dan aksi nyata. (Ari)


