TAJUK RENCANA: Mendayung di Antara Karang RaksasaSeni Diplomasi Total Mengamankan Kedaulatan NKRI

Sergap24jam. Com – Dunia tidak sedang baik-baik saja. Di balik retorika perdamaian global, terjadi pergeseran tektonik geopolitik yang memperebutkan dua hal: sumber energi masa depan dan mineral kritis rare earth elements yang menjadi urat nadi teknologi canggih.

Di pusaran inilah kepemimpinan nasional diuji. Langkah Presiden RI mendekati poros Timur—Rusia dan China—yang diimbangi pendekatan kultural-spiritual ke Tahta Suci Vatikan di bawah Paus Leo XIV, adalah manuver taktis untuk mengamankan kepentingan nasional.

Kita harus bermanuver setaktis ini karena posisi geografis dan kekayaan alam kita menggiurkan sekaligus rentan. Seperti diingatkan pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, kita berada di titik sumbu kepentingan global. Pangkalan militer asing di Guam hanya berjarak hitungan jam dari Papua. Tanpa kesiapan logistik dan diplomatik, kita bisa mengalami nasib yang sama dengan negara-negara yang kekayaannya dicaplok paksa.

Diplomasi luar negeri saja tidak cukup. Soliditas internal adalah sisi lainnya. Sejarah awal Orde Baru menunjukkan TNI sebagai garda kedaulatan bisa pecah akibat infiltrasi dan penyusupan asing. Hal yang sama terlihat pada Iran hari ini. Negara dengan kekuatan militer besar melemah bukan karena serangan terbuka, melainkan karena intelijen asing merusak struktur pertahanan dari dalam.

Di sinilah prinsip Pamong Pancasila Martin Sembiring menjadi relevan: “Kenali dengan pasti, siapa kita, dan siapa lawan kita.”

Bagi Martin, lawan tidak hanya ada di perbatasan. Musuh paling berbahaya adalah yang menabur perpecahan di dalam rumah sendiri. Penyusupan ideologi, adu domba antar faksi, dan infiltrasi intelijen adalah senjata sunyi yang terbukti melumpuhkan bangsa besar.

Inilah wajah Diplomasi Total Pancasila. Kita merangkul China untuk mengamankan ekonomi, mendekati Rusia untuk menjaga keseimbangan geopolitik, dan mempererat hubungan dengan Vatikan untuk mengukuhkan benteng moral. Semua itu sia-sia jika kita membiarkan diri disusupi.

Saat rakyat dan militer bersatu, menolak segala bentuk penyusupan yang memecah belah, pekikan “Go to Hell” terhadap intervensi asing berubah menjadi kekuatan untuk mempertahankan negeri ini. Indonesia mengirim pesan tegas: kita tidak akan menjadi pelanduk yang mati di tengah perkelahian gajah. Indonesia berdiri tegak, berdaulat penuh atas buminya, dan siap menjaga kehormatan tanah air dari rongrongan luar maupun pengkhianatan dari dalam sampai titik darah penghabisan.

PENULIS :MMartin Sembiring. MT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *