BATAM HARUS MENJADI BENTENG PANCASILA DI GERBANG EKONOMI INDONESIA

Batam, 11 Juli 2026 // Sergap24jam.com – Batam tidak hanya dipandang sebagai kawasan perdagangan bebas dan pusat logistik internasional, tetapi juga sebagai wilayah strategis yang menjadi wajah Indonesia di perbatasan dengan Singapura. Di tengah pesatnya arus investasi, perdagangan global, dan transformasi digital, pembangunan Batam dinilai harus berjalan seiring dengan penguatan ideologi Pancasila serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Menurut Ir. Martin Sembiring, S.T., M.T. (PakJaras), keberhasilan Batam tidak cukup hanya diukur dari banyaknya investasi, modernnya pelabuhan, atau berkembangnya sistem digital seperti Port Integrated Clearance System (PICS). Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa masyarakat Indonesia menjadi pelaku utama dalam pembangunan tersebut.

“Masyarakat Batam harus benar-benar mengenal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Semangat gotong royong, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial harus menjadi fondasi pembangunan sehingga Batam tetap maju tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai bahwa globalisasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Singapura dan menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional, Batam harus mampu memanfaatkan kerja sama ekonomi secara optimal, namun tetap menjaga kepentingan nasional serta identitas kebangsaan.

Dalam konteks tersebut, pendidikan tinggi memiliki peran strategis. Politeknik Inovasi Nusantara (POLTEVARA) bersama Politeknik Negeri Batam dan perguruan tinggi lainnya diharapkan menjadi garda terdepan dalam mencetak sumber daya manusia yang menguasai teknologi modern sekaligus berkarakter Pancasila.

Program pendidikan yang berorientasi pada Artificial Intelligence (AI), digitalisasi logistik, energi terbarukan, dan teknologi konstruksi dipandang sebagai bekal penting agar generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Namun, kompetensi tersebut harus dibangun sejalan dengan penguatan nilai-nilai kebangsaan agar lulusan tidak hanya menjadi tenaga kerja profesional, tetapi juga pemimpin yang memiliki integritas dan tanggung jawab terhadap bangsa.

Martin menegaskan bahwa aparatur pemerintah, pelaku usaha, dunia pendidikan, dan masyarakat Batam perlu bersinergi dalam membangun budaya kerja yang profesional, inovatif, dan berlandaskan Pancasila. Dengan karakter tersebut, Batam diharapkan mampu menghadapi berbagai dinamika global serta menyaring berbagai pengaruh luar secara bijaksana, sehingga keterbukaan ekonomi tetap berjalan seiring dengan penguatan kedaulatan nasional.

“Batam harus menjadi contoh bahwa keterbukaan terhadap dunia internasional tidak berarti kehilangan jati diri. Justru dengan berpegang teguh pada Pancasila, masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan peluang global untuk memperkuat kesejahteraan, persatuan, dan kedaulatan bangsa,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *