TAJUK RENCANA: MENAGIH MARTABAT, MELAWAN LIBERALISME DARI DESA
Oleh: Khairul Mahalli
Editor: Martin Sembiring
Menurut Presiden, kapitalisme modern telah menjelma menjadi liberalisme yang bergerak tanpa wajah, tetapi tetap membawa residu eksploitasi yang sama dengan masa lalu. Peringatan Presiden Prabowo Subianto bahwa nenek moyang kita pernah dianggap โlebih rendah dari anjingโ bukan sekadar nostalgia. Itu adalah provokasi moral. Pengingat keras bagi generasi muda bahwa kedaulatan bangsa hari ini ditebus dengan harga mahal: martabat manusia yang pernah diinjak-injak selama ratusan tahun.
Kehilangan Martabat Ekonomi
Ancaman nyata di depan mata adalah kehilangan โmartabat ekonomiโ jika visi ekonomi Presidenโyang merupakan perwujudan nilai-nilai Marhaenโtidak dijalankan secara konsekuen. Liberalisme ekonomi yang liar menempatkan rakyat hanya sebagai objek pasar. Tanpa keberanian untuk Berdikari, kita hanya berpindah dari penjajahan fisik ke penjajahan sistemik. Kekayaan alam dikuras, sementara rakyat tetap menjadi penonton di tanah airnya sendiri.
Modernitas Dimulai dari Desa
Transformasi bangsa harus dimulai dari akar rumput. Modernitas sejati lahir dari desa kita sendiri. Kabar baiknya, Koperasi Merah Putih telah mulai bergerak sebagai mesin penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan menghidupkan koperasi dan membangun smart system di pedesaan, jati diri bangsa yang berlandaskan gotong royong menjadi nyata. Inilah jawaban telak atas liberalisme yang menciptakan jurang ketimpangan antara kota dan desa.
Menegakkan Otoritas Pancasila
Perjuangan ini menuntut ditegakkannya Otoritas Pancasila dalam seluruh peraturan perundang-undangan dan perilaku pejabat publik. Dari keputusan kepala daerah hingga kebijakan pejabat BUMN, semuanya harus selaras dengan napas Pancasila.
Setiap regulasi harus melewati โaudit ideologiโ agar tidak ada celah bagi kepentingan asing atau oligarki yang bersembunyi di balik jubah pasar bebas. Pejabat publik harus kembali pada fitrahnya sebagai pelayan kedaulatan rakyat, bukan makelar kebijakan. Hanya dengan konsistensi ini, kemerdekaan yang kita nikmati akan bertransformasi menjadi kesejahteraan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
REFERENSI PUSTAKA
- Soekarno. (1933). Mentjapai Indonesia Merdeka. Risalah Marhaenisme dan Berdikari.
- Mohammad Hatta. (1954). Membangun Kooperasi dan Kooperasi Membangun. Jakarta: Penerbitan dan Balai Buku Indonesia.
- Martin Sembiring. (2026). Buku Putih: Membangun Ekonomi Desa Berbasis Koperasi Merah Putih. Medan: Media Online Gebrak24.
- Prabowo Subianto. (2024). Strategi Transformasi Bangsa: Menuju Indonesia Emas 2045. Jakarta.
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 33 tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial.
- Sekretariat Negara RI. (2026). Pidato Presiden RI Terkait Refleksi Sejarah dan Kedaulatan Bangsa. Jakarta.
- Dokumen FORMAS Sumatera Utara. (2026). Deklarasi Kedaulatan Ekonomi dan Ideologi Pancasila. Medan.


