TAJUK UTAMAMenolak Agama Etalase: Mengembalikan Umat sebagai Subjek, Bukan Komoditas ,Oleh: Martin Sembiring
Medan// Sergap 24jam.com – Dalam empat dekade perjalanan pengabdian, ada pergeseran pilu yang kini merayap ke jantung iman kita: liberalisasi agama. Secara arogan, tatanan suci dibalik. Agama yang seharusnya melayani manusia, berubah jadi subjek berkuasa yang mengeksploitasi. Sementara umat dan masyarakat direduksi jadi objek—angka statistik, komoditas politik, dan target pasar industri keagamaan.
Ini cerminan modern dari kutukan Sang Guru dua milenium lalu. Teguran Yesus kepada kaum Farisi dan ahli Taurat bergema lagi hari ini. Dulu mereka memformalkan kesalehan dan membebani rakyat demi mempertahankan status quo. Tindakan Yesus menjungkirbalikkan meja para pedagang di Bait Allah adalah penolakan mutlak terhadap komersialisasi iman. Iman tidak boleh, dan tidak akan pernah boleh, dikooptasi nalar kapitalisme dan hukum pasar.
Di tengah keprihatinan atas liberalisasi dan objektifikasi inilah, renungan Bapa Uskup Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada Minggu, 14 Juni 2026 hadir sebagai oase sekaligus teguran profetik. Lewat tema “Dikasihi, Diperdamaikan, dan Diutus,” beliau mengajak kita kembali ke esensi identitas. Nilai manusia bukan pada harta atau besar sumbangan ke institusi, tapi karena ia adalah milik Allah.
Renungan itu meruntuhkan transaksi beragama dengan hukum dasar kasih karunia:
“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”
Ini antitesis paling telak dari liberalisasi agama. Keselamatan, kasih, pengampunan adalah anugerah murni—bukan prestasi, apalagi komoditas jual beli. Saat sistem keagamaan dioperasikan dengan logika untung-rugi atau kalkulasi pasar, saat itu ia kehilangan ruh ilahinya.
Lebih jauh, Bapa Uskup mengingatkan belas kasih Kristus yang melihat umat kebingungan “seperti domba tanpa gembala.” Di sini agama dikembalikan ke fitrahnya: turun dari menara gading dan mengambil rupa hamba yang melayani. Gereja sejati tidak lahir dari ambisi struktural, tapi dari hati yang berbelas kasih kepada dunia yang luka.
Orang yang sadar dirinya diselamatkan cuma-cuma, tak akan menjadikan agama sebagai tangga kekuasaan. Kesadaran itu melahirkan jiwa-jiwa pengerja yang mengabdi total tanpa pamrih bagi sesama.
Menghadapi zaman yang makin meminggirkan nilai kemanusiaan, sikap kita harus tegas. Tolak jadi sekrup dalam mesin agama liberal. Kembalikan agama ke relnya: jalan rahmat yang membebaskan, memberdayakan umat sebagai subjek sadar dan bermartabat, serta mewujudkan keadilan nyata.
Sebab Gereja yang hidup bukan yang sibuk mengurus ritual di altar saja, tapi Gereja yang keluar melayani—bersukacita karena dikasihi, dan bergerak membagikan rahmat cuma-cuma.


