Garuda Indonesiaku, Merdeka Bangsaku: Menjadi Jembatan di Usia 81 Tahun
Sumut// Sergap24jam. Com.
Oleh: Martin Sembiring
Indonesia memasuki usia 81 tahun kemerdekaan. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang bagi sebuah bangsa. Kita telah melewati pergantian zaman, perubahan pemerintahan, krisis ekonomi, pergulatan politik, dan berbagai tantangan global. Namun, setiap peringatan kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada upacara, pidato, dan perayaan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang akan kita perbuat untuk Indonesia?
Bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkan Indonesia menjadi bangsa yang makmur, berdaulat, adil, dan bermartabat, kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Salah satunya adalah menjadi jembatan di tengah masyarakat.
Kita hidup dalam zaman ketika kesalahpahaman mudah tumbuh. Kebijakan pemerintah dapat dipahami secara berbeda oleh masyarakat. Informasi yang tidak utuh dapat melahirkan prasangka. Perbedaan kepentingan dapat berubah menjadi pertentangan.
Dalam situasi seperti ini, bangsa membutuhkan lebih banyak mediator sosial: orang-orang yang tidak datang untuk memperbesar konflik, tetapi membantu mempertemukan pihak-pihak yang berbeda.
Mediator bukan pembela pemerintah dan bukan pula oposisi terhadap pemerintah. Mediator adalah jembatan antara kebijakan dan rakyat. Ia mendengar, menjelaskan, mengklarifikasi, dan membuka ruang dialog agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Garuda dan Jalan Indonesia
Di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan kembali kesadaran mengenai jati dirinya.
Garuda Pancasila bukan sekadar lambang yang ditempatkan di ruang-ruang negara. Garuda adalah simbol keberanian bangsa untuk berdiri dengan identitasnya sendiri.
Pancasila memberi Indonesia jalan yang khas.
Kita tidak harus menyerahkan seluruh arah kehidupan kepada logika pasar. Namun kita juga tidak membutuhkan negara yang terlalu dominan hingga kebebasan dan martabat manusia kehilangan ruang.
Indonesia harus mampu mengambil jalan sendiri: kedaulatan yang berpihak kepada rakyat, ekonomi yang memberi ruang bagi kemajuan, demokrasi yang beradab, serta pembangunan yang berorientasi pada keadilan sosial.
Karena itu, kritik terhadap neoliberalisme tidak seharusnya dimaknai sebagai penolakan terhadap dunia, investasi, perdagangan, atau kemajuan teknologi. Yang harus dijaga adalah agar keterbukaan tidak berubah menjadi ketergantungan dan agar kepentingan modal tidak mengalahkan kepentingan rakyat.
Demikian pula, sejarah dunia mengajarkan bahwa gagasan mengenai kesejahteraan kolektif pun dapat kehilangan maknanya ketika kekuasaan menjadi terlalu terpusat dan berubah menjadi otoritarianisme.
Pancasila tidak mengajarkan kedua ekstrem tersebut.
Pancasila mengajarkan keseimbangan.
Hikmat dan Kebijaksanaan
Di sinilah sila keempat memperoleh makna yang sangat penting:
“Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”
Hikmat dan kebijaksanaan seharusnya menjadi modal utama kepemimpinan Indonesia menuju Indonesia Emas.
Pemimpin tidak cukup hanya cerdas. Tidak cukup hanya berpendidikan tinggi. Tidak cukup pula hanya memiliki jabatan dan kewenangan.
Pemimpin harus mempunyai keutamaan moral.
Hikmat adalah kemampuan melihat persoalan dengan kedalaman. Kebijaksanaan adalah kemampuan menggunakan pengetahuan dan kekuasaan secara adil.
Karena itu, seluruh pemangku jabatan—di tingkat pusat, daerah, BUMN maupun lembaga publik—perlu memiliki kesadaran bahwa jabatan adalah amanah. Kekuasaan tidak boleh menjadi ruang bagi kepentingan pribadi, kelompok, oligarki, maupun kepentingan ekonomi yang mengabaikan rakyat.
Ukuran keberhasilan negara bukan semata-mata seberapa megah gedung pemerintahannya. Bukan pula semata-mata seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya.
Negara yang gagah adalah negara yang mampu menghadirkan keadilan.
Kekuasaan memperoleh kewibawaan bukan karena rakyat takut kepadanya, melainkan karena rakyat percaya bahwa negara bekerja untuk kepentingan mereka.
Dari Nusantara, Garuda Menatap Masa Depan
Filosofi itu memperoleh ruang simbolik yang kuat di Kota Nusantara.
Istana Garuda di ibu kota negara dapat dibaca bukan hanya sebagai bangunan pemerintahan, tetapi sebagai simbol perjalanan Indonesia menuju masa depan.
Garuda mempunyai sayap untuk terbang.
Sayap adalah simbol gerak. Simbol keberanian. Simbol kemampuan melihat cakrawala yang lebih luas.
Namun burung yang terbang tinggi tetap membutuhkan keseimbangan kedua sayapnya.
Demikian pula Indonesia.
Satu sayap adalah kedaulatan. Satu sayap adalah keadilan.
Tanpa kedaulatan, bangsa kehilangan kemampuan menentukan masa depannya sendiri. Tanpa keadilan, pembangunan kehilangan maknanya.
Karena itu, Kota Nusantara seyogianya tidak hanya menjadi pusat administrasi negara, tetapi juga menjadi simbol pemerintahan yang modern namun tetap berakar pada kebudayaan Indonesia.
Modernisasi tidak harus berarti kehilangan identitas.
Kemajuan teknologi tidak harus memutus akar budaya.
Pemerintahan yang profesional tidak harus kehilangan kesantunan.
Justru budaya bangsa harus menjadi karakter dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Gotong royong menjadi cara membangun.
Musyawarah menjadi cara mengambil keputusan.
Kesantunan menjadi wajah pelayanan publik.
Kejujuran menjadi budaya birokrasi.
Keadilan menjadi roh penegakan hukum.
Ada Perjuangan yang Tidak Terlihat
Dalam perjalanan bangsa, ada pula perjuangan yang tidak selalu terlihat dari panggung politik.
Ada ibu-ibu yang terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain, membawa doa, ketulusan, dan pesan damai. Ada orang-orang yang tidak mengejar jabatan, tetapi konsisten menguatkan sesama. Ada mereka yang memilih mendoakan daripada mencaci, menguatkan daripada menjatuhkan, dan menyatukan daripada memecah.
Mereka mungkin tidak tercatat dalam sejarah resmi.
Namun bangsa yang besar dibangun juga oleh ketulusan orang-orang yang bekerja dalam senyap.
Kehadiran mereka mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu berbentuk kekuasaan. Perjuangan dapat berbentuk doa, ketekunan, kesetiaan, ketahanan hati, dan komitmen terhadap cita-cita yang luhur.
Itulah kekuatan moral yang dibutuhkan Indonesia.
Berani berkomitmen. Tahan menghadapi ujian. Konsisten dalam perjuangan. Tetap rendah hati ketika berhasil.
Pesta Pisang: Merdeka dalam Kesederhanaan
Foto setandan pisang yang sederhana mungkin tampak jauh dari gambaran tentang Indonesia Emas. Tetapi justru di situlah kita dapat menemukan sebuah refleksi.
Pisang tumbuh dari tanah Indonesia. Ia dekat dengan kehidupan rakyat. Ia dapat menjadi sumber pangan, sumber penghasilan petani, dan bagian dari kekayaan hayati negeri ini.
Kemerdekaan semestinya juga membuat kita mampu menghargai sesuatu yang tumbuh dari tanah sendiri.
Tidak semua kemakmuran harus dimulai dari sesuatu yang megah.
Kadang-kadang kemakmuran dimulai dari petani yang tanahnya produktif, desa yang hidup, pasar yang adil, pangan yang terjangkau, dan masyarakat yang saling menguatkan.
Maka, mengapa tidak menyambut 81 tahun Indonesia Merdeka dengan pesta yang sederhana—pesta pisang?
Bukan karena pisang adalah simbol kemewahan.
Justru karena ia mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang sering kali berada tepat di depan mata.
Pisang juga memberi energi, serat, kalium, dan berbagai zat gizi. Ia adalah gambaran sederhana tentang bagaimana sesuatu yang berasal dari bumi sendiri dapat memberi kehidupan.
Menjadi Indonesia
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan masa lalu.
Kemerdekaan juga berarti kemampuan sebuah bangsa menentukan masa depannya sendiri.
Merdeka dalam berpikir.
Merdeka dalam mengambil keputusan.
Merdeka dalam mengelola kekayaan negeri.
Merdeka dalam menjaga kebudayaan.
Dan merdeka dalam membangun sistem pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.
Karena itu, memasuki 81 tahun Indonesia Merdeka, mari kita berhenti bertanya hanya tentang apa yang telah diberikan Indonesia kepada kita.
Mari bertanya:
Apa yang telah kita berikan kepada Indonesia?
Jika kita belum mampu menjadi pemimpin, jadilah warga negara yang baik.
Jika belum mampu membuat kebijakan, jadilah jembatan yang mencegah kesalahpahaman.
Jika belum mampu membangun negara, jangan ikut merusaknya.
Jika belum mampu memberi banyak, berikan ketulusan.
Jika belum mampu melakukan hal besar, lakukan hal kecil dengan konsisten.
Sebab Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di pusat kekuasaan. Indonesia juga dibangun oleh rakyat yang setiap hari bekerja, bertani, berdagang, mendidik anak, menjaga lingkungan, membayar kewajiban, membantu sesama, dan mempertahankan persaudaraan.
Garuda Indonesiaku. Merdeka bangsaku. Bersatu untuk negeri.
Hikmat menjadi kekuatan.
Kebijaksanaan menjadi keutamaan.
Pancasila menjadi kompas.
Budaya menjadi jati diri.
Keadilan menjadi tujuan.
Dan rakyat menjadi alasan mengapa negara ini harus terus diperjuangkan.
Selamat menyambut 81 tahun Indonesia Merdeka.
Mari terbang bersama Garuda—bukan untuk meninggalkan rakyat di bawah, tetapi untuk membawa seluruh rakyat Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, makmur, damai, dan bermartabat.
Merdeka!


