Kabupaten Musi Rawas berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional

MUSI RAWAS // Sergap24jam. Com– Kabupaten Musi Rawas berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional dengan menyabet penghargaan Juara II kategori Jalan Terbaik dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun, penghargaan mentereng ini justru memicu polemik dan nada sumbang di tengah masyarakat yang setiap hari masih harus bergelut dengan infrastruktur jalan yang memprihatinkan.

​Penghargaan yang diberikan dalam rangka peringatan Hari Bakti PU tersebut menetapkan Musi Rawas sebagai salah satu daerah dengan pengelolaan jalan terbaik di Indonesia. Parameter penilaian biasanya meliputi kemantapan jalan, sistem drainase, hingga inovasi pemeliharaan infrastruktur.

​Meski secara administratif diakui oleh pusat, fakta di lapangan menunjukkan pemandangan yang kontras. Di beberapa titik wilayah kecamatan, terutama daerah pelosok dan penghubung antar-desa, kondisi jalan “berkualitas rendah” masih menjadi sajian utama.
​Pantauan di beberapa lokasi menunjukkan lubang-lubang menganga yang kerap berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan tiba. Kendaraan roda dua maupun truk pengangkut hasil bumi seringkali terjebak, menghambat laju ekonomi warga yang sangat bergantung pada akses jalan darat.
​”Kami bingung jalan mana yang dinilai terbaik. Kalau di pusat kota mungkin iya, tapi coba masuk ke desa-desa kami. Jangankan aspal mulus, bisa lewat tanpa terperosok lumpur saja sudah syukur,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
​Kesenjangan Infrastruktur
​Kritik juga datang dari pengamat kebijakan publik yang menilai adanya ketimpangan pembangunan.

Penghargaan Juara II Nasional ini dianggap tidak merepresentasikan kondisi infrastruktur secara merata di seluruh wilayah Musi Rawas.
​Kualitas proyek jalan, termasuk penggunaan rigid concrete di beberapa titik, memang menunjukkan kemajuan. Namun, daya tahan jalan di area lain seringkali dipertanyakan karena cepat mengalami kerusakan tak lama setelah selesai dikerjakan.

​Pemerintah Kabupaten Musi Rawas kini menghadapi tantangan besar. Tropi dari Kementerian PUPR seharusnya menjadi beban moral untuk membuktikan bahwa standar “terbaik” bukan sekadar angka di atas kertas atau dokumen laporan, melainkan kenyataan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

​Masyarakat berharap, dengan adanya predikat juara nasional ini, alokasi anggaran dan perhatian pemerintah pusat maupun daerah benar-benar difokuskan untuk menuntaskan masalah “jalan lumpur” yang masih menghantui wilayah pinggiran. Jangan sampai piala yang dipajang di kantor pemerintahan menjadi sekadar pajangan di tengah keringat warga yang mendorong motor di atas jalan rusak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *