Menyalakan Kembali Spiritualitas Kebangsaan: Menolak Kutuk Neoliberalisme, Merebut Kedaulatan di Akar Rumput
Opini // Sergap 24jam.com — Nasionalisme bukan sekadar pasal dalam konstitusi, bukan pula deretan angka dalam laporan pertumbuhan ekonomi. Nasionalisme adalah getaran spiritual—ikatan batin yang suci antara manusia, tanah air, dan sejarahnya.
Ketika sebuah bangsa kehilangan keyakinan pada kekuatannya sendiri, di situlah spiritualitas kebangsaannya mengalami pembusukan. Pesan ini bergaung kuat saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional 1.061 Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Momentum itu bukan sekadar urusan logistik, seremonial gedung, atau pembagian armada truk. Ini adalah maklumat spiritual: saatnya meruntuhkan mentalitas budak dan merebut kembali martabat bangsa yang merdeka.
Jiwa Merdeka vs Mentalitas Rendah Diri
Terlalu lama bangsa ini dijangkiti penyakit batin: inferiority complex. Rasa rendah diri akut membuat sebagian elite, intelektual, bahkan pengusaha kita tunduk pada apa pun yang berbau asing, sambil meremehkan potensi anak bangsa sendiri.
Menurut Presiden, pangan bukan komoditas dagang biasa yang bisa diukur untung-rugi dan efisiensi impor. Pangan adalah soal survival sebuah peradaban. Sebagai mandataris kedaulatan rakyat yang telah bersumpah, ada tanggung jawab spiritual berat di pundaknya: “Kalau bangsa ini lapar, saya yang bertanggung jawab. Tidak ada orang lain yang akan dihujat, saya yang bertanggung jawab.” Ketika kesadaran ini tertanam, kutuk sebagai bangsa lemah runtuh oleh kerja keras dan kemandirian nyata.
Koperasi dan Ekonomi Kekeluargaan: Benteng Melawan Neoliberalisme
Tantangan terbesar iman kebangsaan hari ini adalah cengkeraman ideologi pasar bebas neoliberal. Sistem yang dingin, serakah, dan hanya berpihak pada modal besar.
Menurut Presiden, jika kita membiarkan sistem ini menguasai hajat hidup orang banyak, modal besar akan mendikte segalanya. Uang rakyat di daerah akan terus tersedot ke pusat, lalu mengalir ke luar negeri tanpa menyisakan kesejahteraan di desa.
Karena itu, ekonomi kekeluargaan harus dihidupkan kembali sebagai benteng pertahanan melalui Koperasi Desa:
- Perputaran Uang di Akar Rumput: Lewat ekosistem Koperasi Desa dan program Makan Bergizi Gratis MBG, ratusan triliun rupiah dipaksa berputar di desa, bukan di lantai bursa luar negeri.
- Keadilan Finansial: Memangkas suku bunga kredit mikro dari 24% menjadi di bawah 10% adalah tindakan moral. Menurut Presiden, tidak adil jika pengusaha besar mendapat bunga murah, sementara ibu-ibu di kampung diperas bunga tinggi.
- Logistik Mandiri: Koperasi yang memiliki armada logistik sendiri memutus rantai tengkulak, mengembalikan hak petani untuk menikmati hasil keringatnya.
Kebangkitan Marwah Marhaen dan Sinergi SDA Desa
Menghidupkan kembali struktur ekonomi ini bukan tanpa tantangan ideologis. Menurut Martin, kembalinya marwah Marhaen di Koperasi Merah Putih akan terjadi bertahap, sehingga dibutuhkan partisipasi rakyat yang berkelanjutan. Hanya melalui gerakan konsisten dan kesadaran kolektif dari bawah, kita mampu dari desa mengusir neokolonialisme liberal yang selama ini mengisap kedaulatan bangsa.
Kedaulatan ini menjadi paripurna ketika BUMN tidak lagi berjalan sendiri sebagai entitas kapitalistik yang berjarak dari rakyat. Menurut Khairul Mahalli, BUMN baru benar-benar kembali milik rakyat jika merangkul Koperasi Merah Putih secara nyata, baik melalui kolaborasi sektor jasa maupun peningkatan daya saing lokal berupa fasilitas ekspor SDA unggulan dari desa.
Melalui integrasi strategis ini, komoditas hasil keringat petani dan nelayan di pelosok Nusantara tidak lagi terjegal di pasar lokal yang timpang. Mereka didorong langsung menembus pasar global dengan posisi tawar yang terhormat. Koperasi harus menjadi episentrum perjuangan kaum Marhaen modern—petani, nelayan, dan buruh—untuk menegakkan kedaulatan di atas kaki sendiri melalui prinsip Gotong Royong. Yang kuat menarik yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, bukan saling mematikan.
Ujian Iman Pemimpin: Integritas di Hadapan Uang
Spiritualitas kebangsaan menjadi omong kosong tanpa ketegasan moral para pemimpinnya. Penyakit terbesar bangsa ini terletak pada rapuhnya hati sebagian pimpinan saat berhadapan dengan materi.
Menurut Presiden, banyak pimpinan yang hatinya tidak kuat, imannya goyah, dan lupa pada rakyat begitu dihadapkan pada urusan uang. Karena itu, tindakan tegas untuk membersihkan birokrasi, mencopot pejabat yang menyimpang dan menyalahgunakan wewenang, adalah langkah mutlak. Menurut Presiden, tidak boleh ada kompromi bagi siapa pun yang merampok kekayaan negara. Di setiap partai dan institusi ada patriot sejati, tapi juga ada pengkhianat. Hukum harus tegak tanpa pandang bulu.
Menuju Indonesia Incorporated yang Berdikari
Kini, dengan fondasi ekonomi yang mulai ditata dari bawah—mulai dari penguatan dana kedaulatan Danantara yang disegani dunia, hingga geliat ekonomi di warung-warung desa—Indonesia sedang melangkah menuju takdirnya yang asli: menjadi bangsa pemenang.
Menurut Presiden, semua elemen bangsa, dari TNI, Polri, kementerian, pemerintah daerah, hingga kepala desa, harus bergerak sebagai satu tim yang solid. Jangan lagi ada ego sektoral yang saling menjatuhkan.
Sejarah tidak dinilai dari apa yang kita nikmati hari ini, melainkan dari fondasi apa yang kita bangun untuk 10 sampai 20 tahun ke depan. Mari rawat spiritualitas kebangsaan ini dengan kerja keras, saling menegur dalam kebaikan, dan menjaga integritas jiwa. Bangsa yang kuat bukan bangsa yang tidak pernah menghadapi krisis, melainkan bangsa yang memiliki karakter dan iman kokoh untuk bangkit dari setiap cobaan.
Merdeka!
Penulis : MMartin Sembiring. MT.


