Mengurai Simpul Kemacetan di Masjid Jami Al Ridha: Aksi Sigap Satlantas Batu Bara

Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, Rabu (11/3/2026), saat intensitas lalu lintas di depan Masjid Jami Al Ridha, Lima Puluh, mulai mencapai titik puncak. Bersamaan dengan hiruk-pikuk warga yang berbelanja di pasar tumpah, ruas jalan di sekitar lokasi tersebut mendadak menyempit, menciptakan simpul kemacetan yang berpotensi melumpuhkan arus kendaraan di jalur utama.

​Di tengah kepadatan tersebut, empat personel Satlantas Polres Batu Bara—Aiptu J. Simanjuntak, Aipda Leman, Bripka Aldo, dan Briptu Asnan—tampak sibuk mengatur ritme kendaraan. Dengan sigap, mereka menyeberangkan pejalan kaki dan memastikan alur kendaraan tetap mengalir tanpa penumpukan yang berarti.

​Pasar tumpah di kawasan masjid ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi kepolisian setiap sore hari. Interaksi antara pedagang yang menggelar lapak hingga ke bahu jalan, warga yang berbelanja, serta kendaraan yang melintas, menuntut kehadiran petugas yang mampu bertindak secara persuasif namun tetap tegas dalam menjaga ketertiban.

​”Kuncinya adalah kehadiran personel di titik krusial. Kami harus memastikan bahu jalan tidak tersumbat total agar arus transportasi tidak terhambat,” ujar salah satu petugas di sela-sela pengaturan lalu lintas.

​Pendekatan yang dilakukan personel di lapangan bukan sekadar mengatur arah kendaraan, tetapi juga menertibkan posisi parkir pengunjung pasar yang kerap memakan badan jalan. Meski kawasan tersebut dipadati aktivitas warga, kehadiran tim Satlantas memberikan kepastian bagi pengendara bahwa jalur tersebut tetap bisa dilalui dengan aman.

​Hingga matahari mulai terbenam, kegiatan pengamanan pasar tumpah ini berlangsung tanpa insiden. Situasi lalu lintas terpantau terkendali dan lancar. Tidak ada laporan mengenai kecelakaan maupun konflik sosial akibat kesemrawutan lalu lintas di sana.

​Kehadiran personel Polres Batu Bara ini menjadi cerminan dari upaya preventif kepolisian dalam mengelola kerumunan publik. Bagi warga Lima Puluh, disiplin yang ditunjukkan petugas di lapangan menjadi penanda bahwa ruang publik, meskipun padat, tetap harus bisa dinikmati dengan kenyamanan dan keamanan bersama.

(Boys-3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *