Opini: Negarawan Terjebak Ideologi LiberalisOleh: Martin Sembiring, Pamong Pancasila

Seorang tokoh nasional sejati seharusnya adalah seorang negarawan. Ia adalah sosok yang hidupnya telah diwakafkan untuk negara, berdiri jauh di atas kepentingan individualisme maupun jebakan liberalisme yang mengagungkan kebebasan tanpa batas. Namun, fenomena belakangan ini memperlihatkan adanya paradoks: ketika tokoh nasional yang kita tuakan justru terjebak dalam sekat-sekat ego yang menutup ruang bagi anak bangsa.

Antara Mengayomi atau Memusuhi
Seorang negarawan yang melihat anak bangsa melakukan kritik, sekalipun kritik itu dirasa keliru, sepantasnya melakukan pembinaan, bukan malah memposisikan mereka sebagai musuh. Kritik adalah energi demokrasi. Jika energi ini tidak dikelola dengan semangat kebapakan atau paternalistik yang positif, maka yang terjadi adalah penggilasan karakter.

Kita bisa melihat dinamika hubungan antara tokoh senior seperti JK dengan sosok-sosok kritis seperti AA dan GN. Wajar jika mereka mengkritik sebagai bentuk kepedulian terhadap arah bangsa. Namun, sikap menolak bertemu atau menutup pintu dialog menunjukkan adanya residu pola pikir liberalis-individualis yang lebih mengedepankan sentimen pribadi daripada kepentingan persatuan.

Merangkul sebagai Seni Kepemimpinan
Dalam hal ini, kita perlu belajar dari kedewasaan politik yang pernah ditunjukkan oleh Pak Prabowo. Beliau memiliki kemampuan luar biasa untuk merangkul pihak-pihak yang sebelumnya berseberangan, bahkan mengasuh mereka dalam satu visi besar pembangunan. Inilah esensi dari Pancasila: musyawarah dan gotong royong, bukan eliminasi.

Langkah AA atau Ahmad Ali yang berinisiatif menjadi jembatan komunikasi antara GN dan JK adalah sebuah oase. Inisiatif mediasi ini seharusnya disambut dengan tangan terbuka oleh sang negarawan. Merangkul pengkritik tidak akan meruntuhkan marwah. Justru akan memperkokoh legitimasi moral seorang pemimpin sebagai pengayom seluruh lapisan rakyat.

Kesimpulan
Kepemimpinan nasional bukan tentang siapa yang paling lama berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu menyatukan perbedaan. Jika seorang tokoh masih terjebak dalam sikap memusuhi kritik, maka ia sedang terperangkap dalam egoisme liberal yang memisahkan “aku” dan “mereka”. Seorang Pamong Pancasila harus berani melampaui itu. Rangkullah anak bangsa, asuhlah pemikiran mereka, karena di tangan merekalah estafet kedaulatan bangsa ini akan berlanjut.

Referensi Bacaan & Literasi Pendukung
Untuk memperdalam analisis mengenai kenegaraan dan kritik terhadap liberalisme, berikut adalah referensi yang relevan:

  1. Di Bawah Bendera Revolusi – Sukarno: Membahas tentang pentingnya persatuan nasional Nasakom pada masanya dan bagaimana menghadapi pertentangan ideologi demi kemerdekaan absolut.
  2. Demokrasi Kita – Mohammad Hatta: Kritik tajam Bung Hatta terhadap pergeseran demokrasi yang cenderung menjadi anarki atau kediktatoran, serta pentingnya moralitas dalam politik.
  3. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka – Berbagai Literatur: Referensi mengenai bagaimana Pancasila seharusnya menjadi sistem yang inklusif, bukan alat untuk memukul lawan politik.
  4. Teori Komunikasi Politik Mediasi Konflik: Bacaan mengenai peran mediator seperti posisi Ahmad Ali dalam menjembatani kebuntuan komunikasi politik antara elite senior dan kelompok progresif.
  5. Buku Putih Pengabdian Tanpa Batas: Refleksi atas nilai-nilai perjuangan yang menempatkan kepentingan kolektif di atas ambisi individual.( Penulis sumber berita : Martin Sembiring. MT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *