TAJUK RENCANAMenyambut Saudara di Rumah Bersama: Membela Harkat Papua, Menjaga Benteng Pancasila

Medan // Sergap 24jam.com – Hari-hari ini hati kita kembali tersentak oleh potret lara dari Papua. Lewat dokumenter Pesta Babi, kita melihat saudara sebangsa—pemilik tanah adat di Merauke hingga Boven Digoel—menancapkan salib merah dan palang adat di tengah hutan mereka. Ada kecemasan nyata tentang ruang hidup, tentang pohon sagu yang hilang, dan tentang masa depan anak-cucu yang terasa gamang di tengah deru ekskavator proyek pangan dan energi.

Sebagai anak bangsa, rasa sakit mereka adalah rasa sakit kita. Di tengah semangat mengejar kemandirian ekonomi, kita tidak boleh menutup mata pada sumbatan komunikasi dan luka rasa keadilan di akar rumput.

Namun di balik visualisasi tradisi Awon Atatbon yang sakral, ada peringatan geopolitik yang perlu direnungkan. Bangsa ini sering goyah bukan karena serangan dari luar, melainkan karena pecah akibat penyusupan dari dalam. Sejarah berulang: musuh kedaulatan menyusup lewat lapisan masyarakat paling bawah—mereka yang terisolasi, minim informasi, dan belum merata mengecap pendidikan.

Kini infiltrasi itu datang dalam baju baru: Neo-Liberalisme Kultural. Narasi ini menyusup halus, memakai dokumenter seperti Pesta Babi sebagai alat. Di permukaan ia membela budaya dan lingkungan. Jika dibedah, esensinya adalah provokasi terstruktur yang menunggangi ritual adat untuk membenturkan sesama anak bangsa.

Lewat bingkai kamera Barat yang egois, film ini mengadu domba kelompok terdidik—birokrat, insinyur, aparat—dengan masyarakat adat di akar rumput. Yang terdidik distigmakan sebagai “antek penindas”. Sementara ketertinggalan materi, absennya dokumen kependudukan, dan keterisolasian dari fasilitas modern diromantisasi sebagai “kesucian peradaban” yang harus dijaga dari sentuhan negara.

Ini jebakan liberal yang berbahaya. Tujuannya: memanfaatkan ketidaktahuan agar masyarakat bawah menolak alih teknologi, memboikot simbol negara, dan menaruh curiga pada saudara sebangsa yang berpendidikan. Jika benih ketidakpercayaan ini tumbuh, benteng ideologi negara rapuh dari dalam. Indonesia sibuk bertengkar di rumah sendiri, sementara kedaulatan pangan, industri, dan energi lumpuh—kondisi yang menguntungkan pasar bebas global yang ingin kita tetap bergantung pada impor.

Karena itu, saudara sebangsa di Papua dan di seluruh Nusantara, camkan doktrin pertahanan ini: Kenali dengan pasti, siapa kita dan siapa lawan kita!

Kita satu kesatuan sosiologis dan ideologis di bawah Pancasila. Kaum terdidik dan masyarakat adat bukan musuh. Kita organ dari satu tubuh yang diikat gotong royong. Tugas kaum terdidik adalah turun ke bawah, merangkul, membimbing, mentransfer ilmu, dan memastikan hak-hak dasar saudara kita terlindungi secara adil. Lawan kita yang sesungguhnya adalah ideologi Liberal yang egois, yang menjadikan air mata dan ritual adat Papua sebagai komoditas tontonan asing agar bangsa ini tetap lemah.

Tolak ideologi Liberal yang memecah belah atas nama kebebasan individu dan ego kelompok. Masa depan Papua bukan pada keterisolasian yang dipelihara agenda asing, melainkan pada pembangunan yang memanusiakan manusia. Negara harus hadir dengan dialog jujur, penghormatan atas hak adat, dan komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa secara merata.

Hanya dengan menjaga kemanunggalan antara kaum terdidik dan masyarakat akar rumput, kita menutup pintu penyusupan musuh. Buktikan bahwa Merah Putih adalah pengayom sejati bagi seluruh rakyatnya.

PENULIS : Martin Sembiring. MT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *