TAJUK UTAMA: Tolak Jatuh di Rp18.000! Hentikan Keluhan, Saatnya Rupiah Bangkit dan Lawan Gempuran Global
Medan// SSergap 24jam.com.
Momentum Emas Menguji Kredibilitas di Tengah Serangan Eksternal dan Tantangan Domestik
Oleh:Khairul Mahalli
(Editorial – 6 Juni 2026)
Angka Rp18.000 per dolar AS memang pukulan telak bagi ekonomi nasional, tapi ini bukan akhir perjalanan! Ketika kepanikan meluas dan narasi “konspirasi elit global” mulai liar, kita wajib jujur bercermin dan menghentikan semua ratapan. Tertekannya nilai Garuda hari ini bukan karena kita dipermainkan, melainkan hasil hitungan rasional pasar—badai sempurna yang tersusun dari 60% guncangan luar dan 40% kelemahan struktur di dalam negeri.
Sejarah selalu membuktikan: krisis melahirkan reformasi paling besar. Untuk membalikkan keadaan dan merebut kembali kedaulatan, kita harus membedah anatomi badai ini dan meramu obat paling tepat.
1. Anatomi Tekanan: Kenapa Kita Terpeleset?
Ambruknya Rupiah adalah hasil benturan tekanan global yang sulit dihindari dan keraguan pasar atas arah kebijakan di rumah sendiri:
- Serangan Eksternal (60%): Suku bunga The Fed yang bertahan di 5.25%-5.50% menyedot modal asing balik ke Amerika, sesuai hukum Uncovered Interest Parity. Belum lagi konflik di Timur Tengah memicu Terms of Trade Shock yang mendorong harga minyak dunia, membuat impor energi kita makin berat dan menguras devisa.
- Keraguan Domestik (40%): Pasar mulai cemas soal Fiscal Dominance—khawatir defisit anggaran melebar akan memaksa Bank Indonesia mencetak uang. Lebih mengkhawatirkan, perluasan tugas BI untuk mengejar pertumbuhan 8% menimbulkan ketakutan independensi bank sentral tergerus. Ketika kredibilitas diragukan, wajar investor memilih menarik diri sementara.
2. Luka Akibat Hantaman: Dampak Kritis yang Harus Segera Ditangani
Kalau Rupiah dibiarkan lama di level ini, efek berantainya akan langsung menghajar nadi ekonomi. Tapi karena kita sadar lebih cepat, mitigasi masih bisa dilakukan:
- Bahaya Inflasi Impor: Harga BBM, gandum, sampai bahan baku industri berpotensi meroket, menguji daya tahan target inflasi BI di angka 3.5%.
- Beban Utang Berdenominasi Dolar: Kewajiban bayar utang luar negeri—milik pemerintah, BUMN, maupun swasta—akan membengkak tajam saat dikonversi ke Rupiah. Ini menuntut strategi lindung nilai (hedging) yang jauh lebih disiplin.
- Putaran Ekonomi Melambat: BI terpaksa menahan suku bunga tinggi agar Rupiah stabil. Dampaknya kredit jadi lebih mahal, investasi tertahan. Pahit, tapi perlu untuk menyehatkan sistem.
3. Jalan Menuju Kemenangan: Padukan Kebijakan Penyelamat
Menurut Mundell-Fleming Model, keluar dari tekanan ini tidak bisa setengah-setengah. Dibutuhkan bauran fiskal dan moneter yang bergerak serempak dan solid.
- Ketegasan Moneter BI: Menjaga BI-Rate di 4.75% serta intervensi berlapis di pasar spot, DNDF, dan NDF offshore adalah langkah ksatria. Sinyal kuat bahwa BI independen dan mengutamakan stabilitas harga adalah senjata utama meredam keraguan investor.
- Disiplin & Kredibilitas Fiskal: Pemerintah harus meredakan keresahan lewat strategi defisit yang transparan dan tajam. Bansos jadi tameng daya beli rakyat bawah, sementara belanja konsumtif yang tidak penting wajib dipangkas.
- Mengunci Devisa Nasional: Aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari SDA harus dijalankan tanpa tawar-menawar. Dolar hasil ekspor wajib masuk dan bertahan di dalam negeri sebagai amunisi cadangan devisa.
Kesimpulan Redaksi
Mata uang negara tetangga ASEAN seperti Ringgit Malaysia dan Baht Thailand membuktikan: fundamental kuat + neraca dagang surplus adalah tameng anti-spekulan. Rupiah juga bisa bangkit dan kembali ke ekuilibrium Rp16.400 – Rp16.500. Kuncinya satu: hentikan kebiasaan menyalahkan global! Pulihkan kredibilitas fiskal secara radikal, jaga marwah independensi Bank Indonesia, dan pastikan devisa ekspor mengabdi untuk Ibu Pertiwi. Dari titik nadir inilah, api kebangkitan kedaulatan ekonomi kita mulai menyala!
Jurnalis : Martinya Sembiring. MT.


