Aliansi Masyarakat Bintan Bagian Utara Kembali Pulangkan Warganya dari Kamboja
Tanjung Uban //Sergap24jam.com.
Aliansi Masyarakat Bintan Bagian Utara kembali menunjukkan keberhasilannya kali kedua dalam memulangkan warganya yang terjebak di Kamboja,Kali ini, mereka berhasil memulangkan Sigit Herianto, yang dulu pertama diah beserta balita nya di beberapa waktu yang lalu,
Sigit Herianto juga seorang warga Tanjung Uban Kabupaten Bintan
Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas keberhasilan ini. Sigit Herianto sudah berhasil kita pulangkan dan pagi ini sudah bisa berkumpul kembali dengan keluarga,”ujar Syamsuddin, Ketua Aliansi Masyarakat Bintan Bagian Utara.pada sabtu 07/03/26

Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras teman-teman Aliansi Masyarakat Bintan Bagian Utara dan bantuan dari beberapa donatur. “Deportasi mandiri memang tidak mudah, tapi kami berhasil melakukannya berkat kerja sama dan dukungan dari semua pihak,” tambah Syamsuddin.
Pada malam hari nya syukuran kumpul di sekretariat aliansi pondok hulu balang karena Sigit Herianto pulang pakai donatur, termasuk Bu Eri Yanti, Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Bintan, dan Bu Esty Anggoda, DPRD kabupaten Bintan.
Ikut juga hadir Ivanny Putra Samudra yang sama baru pulang dari Kamboja,
Sedangkan Ivanny pakai dana dari orang tua untuk pulang deportasi mandiri.
Sigit dan Ivanny memberikan imbauan kepada rekan-rekan kaula muda kalau mau mencari pekerjaan ke luar negri harus selektif dan tidak mudah percaya dengan janji-janji manis agen.
Tadi mau mencari penghasilan lebih ke negara Kamboja, ternyata sampai di negara tersebut tidak sesuai harapan dengan kenyataan, dan seperti apa yang dijanjikan oleh para agen yang ada di Indonesia,” ujar Sigit.

Ketua Aliansi Masyarakat Bintan Bagian Utara Syamsuddin, bertanya pada salah satu dari mereka, kenapa tidak mencari pekerjaan di Kabupaten Bintan saja, (di industri lobam atau perhotelan di Lagoi). Mereka mengatakan bahwa melamar kerja di Lobam sangat sulit, walau pun persyaratan yang diminta oleh perusahaan sudah lengkap semua, namun yang disayangkan pekerja yang melamar ke industri Lobam dan perhotelan Lagoi justru orang luar daerah, untuk anak tempatan kami ada merasa kecewa, hingga kami merantau ke negara Kamboja.
Dan juga sigit dan ivanny menjelaskan, masih banyak warga negara Indonesia yang masih terlantar di Kamboja khusus nya daerah (Phnom Penh).

Dan di saat di Kamboja para pekerja dijual belikan oleh agen dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain dan terus seperti itu jika mau pulang ke Indonesia ya harus melalui deportasi mandiri.
Yang disayangkan justru agen-agen di Kamboja kebanyakan warga negara Indonesia. Mudah-mudahan pemerintah daerah atau pusat dalam hal ini bisa mengambil tindakan yang tegas pada agen-agen Indonesia yang ilegal yang ada di negara Kamboja, tutup Syamsuddin.( Ham. K)


