Lopo( kedai),Marlopo( ber kedai),,ini Menjadi Ruang Kehidupan Orang Mandailing,,
sergap24jam.com// Madina – Sumut,Di tengah gempuran media sosial dan komunikasi digital, tradisi marlopo masih menjadi denyut nadi kehidupan sosial masyarakat Mandailing. Lebih dari sekadar nongkrong di warung kopi, marlopo adalah ruang pertemuan, ruang belajar, dan ruang pewarisan budaya yang hidup alami.
Sabtu 29/08/2026
Hal itu diungkapkan oleh Rani Ismil Hakim, M.Pd., dosen STAIN Mandailing Natal dalam tulisannya yang membahas makna filosofis lopo bagi orang Mandailing.
Dalam Kamus Angkola-Mandailing, lopo berarti kedai, dan marlopo berarti berkedai. Namun maknanya jauh lebih dalam. Jika rumah adalah ruang keluarga dan masjid adalah ruang ibadah, maka lopo adalah ruang sosial masyarakat Madina.
“Orang datang tanpa janji, tanpa undangan, tanpa susunan acara. Cukup datang, duduk, memesan minuman, dan percakapan berjalan sendiri,” tulis Rani.
Di lopo, semua kalangan bertemu tanpa sekat. Petani bertemu petani, pedagang bertemu pedagang, orang tua berbincang dengan anak muda. Obrolan mengalir dari harga kopi, hasil kebun, keadaan kampung, sepak bola, hingga politik dan pembangunan jalan. Dari sanalah banyak kabar berjalan dan solusi atas persoalan kampung sering kali ditemukan, bukan karena ada ahli, melainkan karena ada banyak orang yang bersedia mendengar.
Rani menilai, di era digital saat ini nilai marlopo menghadapi tantangan. Untuk tahu kabar, dulu harus bertemu. Kini ada
Fenomena duduk satu meja namun masing-masing sibuk dengan telepon menjadi pemandangan umum.
Namun menurutnya, budaya tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang persis sama. Lopo boleh berubah wujud dari warung sederhana dengan bangku kayu menjadi kedai kopi modern dengan kursi empuk, asalkan ruhnya tidak hilang.
“Yang membuat lopo hidup bukan meja atau kopinya, melainkan percakapan manusia di dalamnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa marlopo butuh etika. Karena informasi berpindah cepat dari mulut ke mulut, marlopo membutuhkan kedewasaan agar tidak menjadi ruang penyebaran hoaks atau merusak nama baik orang lain. Marlopo seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran dan mencari solusi, bukan memperbesar persoalan.
Masyarakat Madina, lanjutnya, tidak perlu memilih antara teknologi dan marlopo. Keduanya bisa berjalan beriringan. Teknologi seharusnya memperluas hubungan manusia, bukan menggantikannya.
Ia membayangkan lopo di masa depan tidak hanya tempat minum kopi, tapi juga tempat anak muda berdiskusi soal pendidikan, warga menyampaikan aspirasi, dan generasi tua berbagi pengalaman.
“Selama masih ada orang yang mau duduk bersama, saling menyapa, berbicara, dan mendengar, ruh marlopo akan tetap hidup. Sebab pada akhirnya, marlopo bukan tentang kopi — ia tentang manusia,” tutupnya.( HH)


