Rutan Tanjung Gusta Medan Bekali WBP Dengan Ketrampilan Produktif, Produksi 5 Ton Tempe Perbulan
Medan//sergap24jam.com – Bukan sekadar menjalani masa pidana, Warga Binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Medan terus didorong untuk memiliki keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat, Sabtu (12/09//2026).
Melalui program Bimbingan Kegiatan Kerja (Bimker), berbagai kegiatan produktif dikembangkan, salah satunya produksi tempe yang mampu mencapai sekitar 5 ton setiap bulan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Rutan Kelas I Medan dalam memperkuat pembinaan kemandirian. Warga Binaan diberikan kesempatan untuk belajar, bekerja, sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.
Kepala Rutan (Karutan) Kelas I Medan, Andi Surya, mengatakan pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan.
Menurutnya, Warga Binaan perlu diberikan ruang untuk mengembangkan potensi dan keterampilan sehingga memiliki bekal yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.
“Kami terus mendorong agar pembinaan di Rutan Kelas I Medan tidak hanya berorientasi pada keterampilan, tetapi juga pada pembentukan kemandirian dan produktivitas Warga Binaan. Melalui Bimker, mereka diberikan ruang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai bekal ketika nantinya kembali ke masyarakat,” ujar Andi Surya.
Bimker Rutan Kelas I Medan menyediakan beragam kegiatan keterampilan, mulai dari kerajinan tangan, produksi sandal, pembuatan tas, sandal hotel, hingga pengolahan berbagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Warga Binaan juga dilibatkan dalam produksi keripik pisang, keripik tempe, roti, pengelolaan coffee shop, serta berbagai produk olahan teri.
Di antara berbagai kegiatan tersebut, produksi tempe menjadi salah satu kegiatan yang terus dikembangkan. Dalam sehari, produksi mencapai sekitar 307 batang, sehingga secara keseluruhan dapat mencapai sekitar 5 ton setiap bulan.
Hasil produksi tersebut selanjutnya turut disalurkan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kualitas produk juga menjadi perhatian dalam proses pembinaan. Tempe yang diproduksi Warga Binaan tersebut telah memiliki sertifikat halal sebagai bentuk komitmen terhadap kualitas serta pemenuhan ketentuan yang berlaku.
Selain memberikan keterampilan kepada Warga Binaan, kegiatan Bimker juga memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Penerimaan tersebut berasal dari akumulasi hasil penjualan berbagai produk dan kegiatan usaha yang dikelola di Bimker.
Hingga Juli 2026, kontribusi PNBP dari kegiatan Bimker Rutan Kelas I Medan telah mencapai Rp24,5 juta dari target Rp36 juta dalam satu tahun. Capaian itu berasal dari berbagai produk dan kegiatan usaha, mulai dari kerajinan, sandal, tas, sandal hotel, produk olahan UMKM hingga coffee shop.
Andi Surya menilai capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembinaan kemandirian di Rutan Kelas I Medan dapat berjalan secara produktif sekaligus memberikan manfaat bagi Warga Binaan dan negara.
“PNBP yang dihasilkan merupakan akumulasi dari berbagai produk dan kegiatan usaha yang ada di Bimker, bukan berasal dari satu jenis produk saja. Ini menunjukkan bahwa pembinaan yang kita lakukan memiliki nilai produktif. Kami akan terus mendorong agar potensi dan keterampilan Warga Binaan dapat dikembangkan sehingga menghasilkan karya yang bernilai dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ungkap Andi Surya.
Kasubsi Bimbingan Kegiatan Kerja Rutan Kelas I Medan, Irawadi Purba, menjelaskan bahwa produksi tempe merupakan salah satu kegiatan unggulan yang terus dikembangkan secara berkelanjutan.
“Produksi tempe ini menjadi salah satu kegiatan produktif yang kami kembangkan secara berkelanjutan. Dalam satu bulan, produksi dapat mencapai sekitar 5 ton, dengan hasil produksi yang turut mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain keterampilan, kegiatan ini juga mengajarkan Warga Binaan tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta proses kerja yang terarah,” tutur Irawadi Purba.
Menurut Irawadi, proses produksi dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek kebersihan dan kualitas. Sertifikat halal yang telah dimiliki juga menjadi bagian dari upaya memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku.
“Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan di Bimker dapat menjadi bekal bagi Warga Binaan setelah selesai menjalani masa pidana. Jadi, mereka tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja dan keterampilan yang bisa dikembangkan secara mandiri di tengah masyarakat,” tambahnya.
Melalui Bimker, Rutan Kelas I Medan terus menghadirkan pola pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas selama berada di dalam Rutan, tetapi juga mempersiapkan Warga Binaan menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
Berbagai kegiatan produktif tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat untuk hidup mandiri. Dengan demikian, pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam mendukung proses reintegrasi sosial dan memberikan kesempatan kepada Warga Binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Jurnalis : Syahreza Nasution


