Milenial: Jangan Mencari Kebenaran dan Keadilan, Carilah Damai Sejahtera
Medan// Sergap24jam. Com.
Oleh: Martin Sembiring, Cand. Mediator M. Agung
Di era media sosial, hampir setiap hari kita menyaksikan orang berlomba membuktikan dirinya paling benar. Di dalam keluarga, di tempat kerja, di organisasi, bahkan di ruang publik, kesalahpahaman yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan dialog sering berkembang menjadi sengketa karena masing-masing pihak ingin diakui sebagai pemilik kebenaran.
Padahal, sejak awal manusia tidak pernah diberi kuasa untuk melahirkan kebenaran yang mutlak.
Di dalam Injil, Yesus Kristus tidak mengatakan bahwa manusia akan menciptakan kebenaran. Sebaliknya, Ia menyatakan, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Ketika Pilatus bertanya, “Apakah kebenaran itu?”, jawabannya sesungguhnya telah berdiri di hadapannya. Kebenaran bukanlah hasil pemikiran manusia, melainkan berasal dari Sang Pencipta.
Demikian pula mengenai keadilan. Tuhan dikenal sebagai Yang Maha Adil. Gelar itu tidak pernah disematkan kepada manusia. Artinya, keadilan yang sempurna berada di luar jangkauan manusia. Yang mampu kita lakukan hanyalah berusaha mendekatinya melalui hati nurani, hikmat, dan kebijaksanaan.
Di sinilah letak kekeliruan yang sering terjadi. Ketika muncul kesalahpahaman atau sengketa, manusia justru sibuk membuktikan siapa yang paling benar dan siapa yang paling adil. Ego menjadi lebih besar daripada kasih. Akibatnya, damai sejahtera hilang.
Sesungguhnya, tugas manusia bukan melahirkan kebenaran yang mutlak ataupun keadilan yang sempurna. Tugas manusia adalah menghadirkan damai sejahtera.
Damai sejahtera bukan berarti semua orang harus sepakat dalam segala hal. Damai sejahtera adalah keadaan ketika manusia mampu hidup dalam kasih, saling menghormati, saling mengampuni, dan bersama-sama menemukan jalan keluar yang membawa kebaikan bagi semua pihak.
Dalam kehidupan rumah tangga, prinsip ini sangat nyata. Banyak pasangan merasa saling memiliki. Padahal setiap manusia adalah milik Tuhan, bukan milik pasangannya.
Ketika terjadi kesalahpahaman, yang kemudian berkembang menjadi sengketa, suami dan istri sering kali sibuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Padahal, tujuan perkawinan bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan membangun damai sejahtera.
Bahkan jika kita berbicara mengenai keadilan, rumah tangga tidak pernah memiliki pembagian beban yang benar-benar sama.
Seorang ibu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Semua pengalaman itu tidak mungkin dialami oleh seorang ayah. Sebaliknya, seorang ayah memikul tanggung jawab lain yang berbeda. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kodrat serta fungsi yang saling melengkapi, bukan untuk dipertandingkan.
Karena itu, jika keadilan dipahami sebagai kesamaan yang mutlak, maka manusia tidak akan pernah menemukannya.
Hal yang sama dapat kita lihat di dunia kerja. Seorang karyawan bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga perusahaan memperoleh keuntungan besar. Namun yang diterimanya adalah gaji dan bonus sesuai kesepakatan kerja. Apakah itu sepenuhnya adil? Jawabannya akan berbeda menurut sudut pandang masing-masing.
Inilah bukti bahwa keadilan menurut manusia selalu bersifat relatif.
Begitu pula dengan hukum. Banyak orang menyamakan hukum dengan keadilan. Padahal hukum hanyalah instrumen yang dibuat manusia untuk mengatur kehidupan bersama. Hukum bekerja berdasarkan aturan, alat bukti, prosedur, dan argumentasi.
Hukum bersifat netral. Kenetralannya dapat diibaratkan seperti posisi transmisi kendaraan yang berada pada posisi netral. Ia tidak bergerak sebelum diarahkan. Demikian pula hukum. Putusan yang lahir merupakan hasil pembuktian dan proses yang berlangsung. Oleh sebab itu, hukum adalah ikhtiar manusia untuk mendekati keadilan, bukan keadilan yang mutlak.
Karena memahami keterbatasan manusia, para nabi tidak meminta kuasa untuk menentukan siapa yang paling benar. Mereka memohon hikmat dan kebijaksanaan. Raja Salomo dikenang bukan karena mengaku paling benar, melainkan karena hikmatnya dalam menyelesaikan sengketa dan kesalahpahaman di antara manusia.
Hikmat dan kebijaksanaan selalu membuka jalan menuju damai sejahtera.
Nilai yang sama menjadi roh Pancasila, khususnya sila keempat:
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.”
Rumusan ini menunjukkan kerendahan hati para pendiri bangsa. Mereka menyadari bahwa manusia bukan pemilik kebenaran yang mutlak. Karena itu, keputusan bersama harus dicapai melalui musyawarah agar lahir hikmat dan kebijaksanaan yang mendekati kemaslahatan bersama.
Di sinilah profesi mediator memperoleh makna yang sangat luhur.
Mediator tidak bertugas menentukan siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah dalam suatu sengketa. Mediator juga tidak memaksakan pandangannya mengenai keadilan.
Tugas mediator adalah meluruskan kesalahpahaman, membangun komunikasi, menghadirkan hikmat dan kebijaksanaan dalam dialog, sehingga para pihak sendiri menemukan kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Tujuan akhirnya bukan kemenangan salah satu pihak.
Tujuan akhirnya adalah damai sejahtera.
Inilah sesungguhnya makna luhur mediasi dan sekaligus jiwa sila keempat Pancasila.
Biarlah Tuhan tetap menjadi Yang Maha Benar.
Biarlah Tuhan tetap menjadi Yang Maha Adil.
Sedangkan manusia menjalankan panggilannya sebagai pembawa damai.
Bayangkan apabila setiap keluarga lebih mengutamakan damai daripada kemenangan, setiap pemimpin lebih mengutamakan hikmat daripada ego kekuasaan, setiap penegak hukum mengedepankan hati nurani, dan setiap warga negara lebih memilih musyawarah daripada permusuhan.
Bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat, bukan karena semua orang selalu sepakat, melainkan karena setiap perbedaan dapat diselesaikan dengan damai.
Inilah keagungan Pancasila. Inilah pula pesan universal ajaran Kristus: manusia tidak dipanggil menjadi pemilik kebenaran dan keadilan yang mutlak, melainkan menjadi pembawa damai sejahtera bagi sesama.
Bagi generasi milenial dan generasi penerus bangsa, inilah pelajaran yang patut direnungkan. Jangan habiskan hidup untuk memenangkan setiap perdebatan. Jangan mengukur kebesaran diri dari banyaknya orang yang mengakui kita benar.
Lebih mulia menjadi pribadi yang menghadirkan damai daripada menjadi pribadi yang selalu ingin memenangkan sengketa.
Sebab pada akhirnya, kebenaran yang mutlak adalah milik Tuhan, keadilan yang sempurna adalah milik Tuhan, sedangkan amanah manusia adalah menghadirkan damai sejahtera bagi sesama.


