15 Hari di ICU, Erita Situmorang Belum Sadar, MRI Ungkap Stroke Akut
Sergai, Sumut || Sergap24jam.com — Erita Situmorang, pasien peserta BPJS Kesehatan, masih menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSU Grand Medistra, Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, setelah 15 hari menjalani perawatan medis. Hingga Senin (2/11/2026), Erita belum sadarkan diri sepenuhnya.
Kondisi Erita menjadi perhatian keluarga setelah hasil pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak pada Sabtu (31/10/2026) menunjukkan adanya infark serebral akut atau gangguan akibat terhambatnya aliran darah ke jaringan otak, yang mengarah pada stroke iskemik.
Sebelumnya, Erita menjalani perawatan di RSUD Sultan Sulaiman sejak 18 Oktober hingga 28 Oktober 2026. Setelah mendapatkan rujukan, pasien kemudian dipindahkan ke RSU Grand Medistra Lubuk Pakam untuk memperoleh penanganan medis lanjutan.
Hasil MRI Ungkap Sejumlah Kelainan
Berdasarkan informasi hasil pemeriksaan MRI yang disampaikan dokter jaga, Yunita, pada Minggu (1/11/2026), ditemukan sejumlah kelainan, di antaranya infark serebral akut pada centrum semiovale dan corona radiata kanan, infark lakunar kronis pada corona radiata kiri, serta perubahan iskemik pada pembuluh darah kecil otak.
Pemeriksaan tersebut juga menunjukkan atrofi serebri disertai pelebaran ruang cairan otak secara ex vacuo, serta hipertrofi konka inferior hidung sebelah kiri.
Temuan tersebut mencakup gangguan pembuluh darah otak, termasuk infark akut dan bekas infark lama.
Dokter Spesialis Saraf Jelaskan Kondisi Pasien
Pada Senin (2/11/2026), dokter spesialis saraf, Arif, memberikan penjelasan kepada keluarga mengenai hasil MRI.
Dokter menjelaskan adanya gangguan pembuluh darah otak yang mengarah pada stroke akibat penyumbatan pembuluh darah.
Terkait kondisi kesadaran, dokter menyebutkan Glasgow Coma Scale (GCS) Erita berada pada kisaran 10–11. Penilaian tersebut menunjukkan pasien masih mengalami gangguan kesadaran dan belum sadar sepenuhnya.
Dokter juga menyampaikan bahwa berdasarkan pemeriksaan yang dijelaskan kepada keluarga, tidak ditemukan pembengkakan otak.
Sejumlah faktor risiko stroke turut menjadi perhatian, antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan ginjal, penyakit jantung, kolesterol, dan obesitas. Kondisi kesehatan lain yang dialami pasien juga menjadi pertimbangan dalam penanganan medis.
Pemulihan Bergantung pada Perkembangan Pasien
Mengenai proses pemulihan, Dokter Arif menjelaskan bahwa pemulihan pascastroke dapat berlangsung selama satu hingga enam bulan. Namun, perkembangan setiap pasien berbeda sehingga waktu pemulihan, termasuk kembalinya kesadaran, tidak dapat dipastikan.
Penanganan selanjutnya difokuskan pada pemberian obat-obatan serta pengendalian faktor risiko yang berkaitan dengan stroke.
Fisioterapi juga diperlukan untuk membantu mempertahankan fungsi gerak, mencegah kekakuan otot dan sendi, serta mengurangi risiko komplikasi akibat perawatan berkepanjangan.
Keluarga Berharap Erita Segera Pulih
Di tengah kondisi yang belum menunjukkan pemulihan kesadaran sebagaimana diharapkan, keluarga terus mendampingi Erita dan berharap memperoleh penjelasan mengenai perkembangan kondisi serta rencana penanganan medis selanjutnya.
Suami Erita mengungkapkan bahwa dirinya ingin memahami lebih jauh dampak stroke terhadap fungsi otak sang istri, perkembangan kesadarannya, serta langkah pengobatan yang akan dijalankan selama perawatan di ICU.
Bagi keluarga, penantian selama 15 hari menjadi masa penuh kecemasan sekaligus harapan. Suami dan anak-anaknya masih menantikan Erita kembali membuka mata, berbicara, tersenyum, dan berkumpul bersama keluarga.
Keluarga berharap Erita mendapatkan penanganan medis terbaik sesuai kondisi kesehatannya, disertai komunikasi yang jelas mengenai perkembangan perawatan.
Hingga berita ini disusun, Erita Situmorang masih menjalani perawatan intensif di ICU RSU Grand Medistra Lubuk Pakam.
Doa dan harapan keluarga terus menyertai perjuangan Erita untuk melewati masa kritis dan menjalani proses pemulihan.
( Mangisi Siburian)

